Obama dan Demokrasi Indonesia

Banyak orang berbicara ketika senator Barack Obama dari Illinois mencalonkan diri jadi presiden AS. Komentar yang diberikan bukan saja komentar yang mendukung tetapi juga komentar yang tidak mendukung sama sekali dan menyatakan bahwa itu hanya mimpi belaka. Obama telah menulis buku tentang dirinya dan segala mimpi-mimpinya yang terinspirasi atas mimpi-mimpi ayahnya dulu.

Kejutan besar terjadi kala dalam konvensi yang dilakukan Partai Demokrat AS, Obama mengalahkan calon kuat, yang juga istri mantan Presiden Clinton, Senator Hillary. Semua orang mulai berspekulasi tentang apa yang bakal terjadi di Amerika pasca kemenangan tersebut. Sejumlah orang bahkan pengamat mengatakan bahwa ini buah dari perjuangan demokrasi yang telah dibangun sejak lama oleh Amerika. Obama sering dihubung-hubungkan dengan Marthin Luther King yang merupakan pendobrak Rasialisme yang terjadi di Amerika tahun 60-an. Dalam konferensi yang amat megah, Obama dicalonkan oleh Partai Demokrat sebagai calon Presiden AS. Sejarah untuk pertama kalinya calon presiden bukan orang kulit putih – walau ada berita bahwa keturunan kulit hitam pernah menjadi Presiden – .

Sejarah tentang Obama tidak samapai di situ, 4 Nopember 2008 warga Amerika memilih Obama sebagai Presiden yang merupakan kemenangan mutlak. Obama menang dalam electoral votes dan publical votes. Electoral votes merupakan penentu utama kemenangan seorang calon Presiden menjadi seorang presiden. Maksudnya adalah jika kandidat kalah dalam electoral votes walaupun dia menang dalam publical votes, dia tetap kalah. Unik, tragis, juga kontroversi merupakan hal yang menggambarkan demokrasi Amerika ini. Jadilah Obama akan menjadi Presiden AS yang ke-44 dan yang ke-1 orang kulit berwarna, akan sah pada januari tahun depan.

Lalu apa hubungannya dengan demokrasi Indonesia?
Virus Obama – jika boleh menyebutkan seperti itu – memang membanjiri dunia karena sesuatu hal yang baru pasti membuat publik tertarik. Hal ini juga sampai ke Indonesia, negeri kita tercinta ini. Apalagi notabene Obama pernah tinggal di Indonesia, semasa kecil. Maka makin menjadilah berita tentang Obama di Indonesia. Mulai dari teman satu sekolahnya semasa kecil hingga iklan dan acara televisi yang mungkin terasa janggal di telinga – “Anak Menteng mengubah Dunia” -. Memang terasa berlebihan, tapi itulah kenyataan yang terjadi di Indonesia tercinta ini.

Kemengangan Obama mengalahkan McCain menjadi berita dan cerita yang sampai sekarang atau mungkin beberapa puluh tahun mendatang akan menjadi pembicaraan yang menarik. Di Indonesia, hal ini semakin menggebu-gebu saat tahun depan Indonesia akan memilih pemimpin yang baru untuk bangsa sekaligus memilih para wakil rakyat yang duduk di DPR. Belum lagi soal pemilu-pemilu di tingkat daerah, pasti Indonesia sedang gencar-gencarnya mempersiapkan diri.

Banyak kalangan menilai kemenangan Obama layak ditiru, demokrasi di Amerika layak ditiru, sikap orang Amerika layak ditiru. Hal ini mungkin melihat sepak terjang Obama dan kemenangannya ditambah sikap warga AS setelah pemilu selesai dilakukan. Memang jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia cukup berbeda apalagi dalam sikap siap kalah. Masyarakat selalu mempermasalahkan hasil-hasil Pilkada dan para calon merasa tidak ada yang kalah. Lalu muncullah perkataan “kapan ya Indonesia bisa seperti Amerka?” – demokrasi –

Jika dikaji, Amerika merasakan yang ada sekarang karena sudah melalui proses yang panjang. Terkadang kita tidak melihat keseluruhan proses yang terjadi, hanya melihathasil dari proses yang telah terjadi. Kita perlu lihat apa yang Amerika lakukan dalah demokrasi mereka. Sebagai catatan Amerika telah merdeka lebih dari 200 tahun dan mereka telah membangun negara mereka berikut juga dengan demokrasi mereka sepanjang kemerdekaan kita.

Jika menyinggung kemenangan Obama sebagai wujud demokrasi Amerika dan morat-maritnya demokrasi Indonesia, saya mengatakan jangan dibandingkan donk. Amerika saja baru bisa menyelesaikan masalah diskriminasi Ras dan Agama setelah Amerika merdeka lebih dari 200 tahun. Gejolak perubahan tentang diskriminasi rasialis pun baru ada 40 tahun yang lalu ketika Marthin Luther King mendobrak hal ini. Bahkan setelah 150 tahun lebih masih ada kasus yang sedemikian besar di Amerika.
Bandingkan dengan Indonesia – jika harus memabaningkan -, kita baru merasakan kemerdekaan, berdiri di kaki sendiri baru 63 tahun. Meskipun perjuangan kita sudah lebih dari ratusan tahun yang lalu, tapi secara resmi kita menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka baru 63 tahun.

Mungkin pertanyaan yang muncul adalah ‘terus kalo begitu, kenapa?’
Bicara soal demokrasi di Indonesia, tentang siapa yang jadi Presiden – apakah hanya dari suku tertentu? agama tertentu? atau yang lainnya – , kita perlu menunggu proses. Memang ada saatnya terjadi revolusi yang besar, tapi jangan terlalu memaksakan revolusi kalau memang tidak siap.
Bicara demokrasi Indonesia mencontoh demokrasi Amerika, sah-sah saja asal memang kita tidak hanya melihat hasilnya saja. Kita harus tetap melihat bahwa semua yang terjadi dalam setiap demokrasi adalah sebuah proses yang tidak instant. Kita mungkin tidak langsung melihat bangsa ini langsung maju, langsung demokratis, tidak ada lagi perselisihan karena SARA, dan lai sebagainya. Semua butuh waktu. Bagian kita adalah melakukan yang terbaik bagi bangsa, tidak korupsi, bangga menjadi bangsa Indonesia, menjunjung tinggi kebhinekaan, dll yang berkenaan dengan itu.

Saya pikir dengan semuanya itu, kita pasti bisa asal kita melakukanya bersama-sama.

Tuhan memberkati Indonesia

Advertisement
Categories: Bincang Pendapat | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: